Weblog
Thursday, 02 September 2010
-
new journey
finally my time in OPSS is up. i am not sure that i will be coming back.
for now, i shall enjoy my ride in NIE.
Thursday, 25 March 2010
-
ah malam kembali
ketika malam kembali
penat lelah istirahat menanti
mencoba meniti mimpi
pelangi pengisi hati
ketika malam melarut
pikiran tak kunjung sayu
malam pun berlalu
meninggalkan pelangiku
Friday, 18 December 2009
-
hey hey hey!
long time no see!
it has been a great deal of time since i wrote here. i even neglected the "NASI BOENGKOES - The Director's Cut" stories. oh my please forgive my negligence.
the most common way to explain anyone's absence in writing would be : busyness. period.
for my case, busyness not really the right term here.
my mind was, for several weeks (or months), like a spiderweb entangled by butterfly web (yes, i know there is no such thing as a butterfly web. but yeah, i think you get the meaning). yes, it was messy if i were to put it in a blunt statement.
thus, rather than putting my messy mind here, i put an empty mind here.
well, i hope you get the metaphor.
anyways, i am hoping to finish what i started (yeap. the NASI BOENGOES story), and continue writing pieces of thoughts that God put in me.
cheers to Him and to you!
Sunday, 08 November 2009
-
when the solution is not to keep on thinking about it.
but keep on walking, by faith, with God who strengthens me each and every day.
Monday, 26 October 2009
-
"NASI BOENGKOES" The Director's Cut (6)
"Mulai di bulan Juni kami semua menaikkan gigi kemudi kami dan mulai terasa hari demi hari begitu cepat berlalu. Latihan kami yang 2 kali dalam seminggu, dilengkapi dengan meeting-meeting lainnya membuat jadwal-ku cukup padat.
Puji Tuhan bahwa di bulan ini aku sudah tidak bekerja di tempatku bekerja yang sebelumnya, dan menunggu untuk memulai pekerjaan baruku di bulan Juli. Kalau tidak, mungkin aku sudah kelelahan dan terbaring di ranjang dalam waktu lama.
Selain dari aku yang cukup available untuk "bekerja" full-time untuk musical ini, Astrid dan Dedi juga sudah libur kuliah, menyababkan kami bertiga bisa fokus penuh untuk NASI BOENGKOES.
Adapun hal-hal kecil yang kami settle adalah jadwal gabungan seluruh tim kreatif (musik, aksi, tari, props, dan kostum), mencoba untuk finalize lagu-lagu, meng-touch up script agar lebih fluid dan dynamic, dan tidak lupa karakterisasi terpisah dengan para casts.
Jadwal merupakan hal yang menurutku sangat tricky sekaligus menyeramkan. Untuk tujuan ini aku sengaja meng-arrange meeting terpisah agar kita dapat plan dengan baik dan seksama. Orang-orang yang aku undang tak lain tak bukan adalah Ceka, Cipto (mewakili team kreatif), Bombie (mewakili dancer), DaChan selaku script writer, pak produser DaSu, dan tak lupa 2 asistenku : Astrid dan Dedi.
Impression pertama kali yang kami punya ketika kami memulai adalah : time is running out! Kita benar-benar perlu buck-up dan menaikkan kinerja kita. Setelah diskusi panjang lebar untuk decide hari-hari libur (hari libur benar-benar kita utilize penuh untuk latihan), meng-highlight hari-hari di mana kita tidak bisa pakai ruangan OHGS (karena ada doa pengerja dan alasan lain sebagainya), dan tak lupa menaruh tanggal-tanggal yang sudah di-book untuk wedding (maklum ada 3 tanggal pernikahan teman kami yang jatuh pada timeline perjalanan NASI BOENGKOES), kita telah membuat schedule, yang kali ini masuk akal dan reasonable, sampai pada hari H.
Buatku personally, aku paling ngeri melihat jadwal bulan September yang dipenuhi kata-kata GLADIKOTOR, GLADIRESIK, dan tentu saja : our big day, the Performance Day pada tgl 26 September. Hati dag-dig-dug, tapi tetap percaya Tuhan yang pegang kendali, membuatku agak nervous tapi tetap confident. Combined practice dengan tim musik dan tim nari akan dimulai di bulan Agustus. Well, at least that was the plan.
Setelah quick release lagu-lagu yang dibuat Ceka dan Cipto, somehow pergerakan tim musik sempat kembali tersendat. Pertama karena tidak ada koordinasi yang jelas dengan lyricist, dan kedua, reluctancy untuk keluar dari comfort zone untuk membuat lagu-lagu yang mereka tidak familiar, seperti lagu Jawa-nya Hendro, dan lagu dangdut. Namun akhirnya setelah beberapa "push" dari berbagai pihak, roda tim musik kembali bergerak dengan cepat.
Lagu yang paling pertama selesai adalah lagu sedih di scene 1 antara Nanda (di sini nama Manda telah diganti menjadi Nanda) dan Nando.
Aku masih ingat waktu itu ketika Manda memperdengarkan draft pertama lagu-nya. Indah sekali. Alunan kata-kata yang dibuat Manda didampingi dengan melodi yang dibuat Cipto membuatku hanyut dalam dunia kesedihan yang dialami Nanda dan Nando dalam NASI BOENGKOES. O iya, tak hanya kata-kata, tapi mendengar suara Manda yang waktu itu menyanyikan lagu tersebut, aku hanya bisa amazed dengan talent yang sudah Tuhan beri padanya. "Terima kasih Tuhan Engkau sudah mengirimkan Manda ke tempat ini", pikirku.
Beberapa dari kata-kata yang dibuat Manda ada yang perlu diubah agar lagunya menjadi lebih bermakna. Memang benar kata peribahasa "2 otak lebih baik dari 1" (aku ga yakin sih apa ini emang ada peribahasanya atau tidak), akhirnya aku bersama dengan Manda berhasil meng-finalize lagu tersebut di hari itu juga, dan kami sepakat untuk memberikan lagu itu judul "Mengapa". Berikut ini adalah lyric lagu "Mengapa".
Mengapa
lyrics by Lorena Amanda Paramon, music by Cipto Wibowo
Mengapa..
hidup tak berdaya
terbuang terhina
dipandang tak berguna
Mengapa..
ini salah siapa
kita hidup berada di bawah
dianggap sampah
Andai ayah ada semua kan berbeda
hidup akan jauh lebih bahagia
selalu bersama atasi segalanya
tapi semua hanya mimpi
Sekarang coba lihat nasib kita
hari esok masihlah tanda tanya
pendidikan apalah artinya
cita2 khayalan belaka
Ohh mengapa
kami harus menanggung segalanya
kepahitan tanpa persahabatan
melangkah tanpa arah tanpa cinta
Mengapa...
oohh Tuhan mengapa..
kami harus menderita
mengapa Tuhan mengapa
tolonglah kami Tuhan
jawablah kami
lepaskan kami
akan derita hidup ini.........
Dan pada hari yang sama, tercipta pula lagu tema kami, "Mari Berkreasi".
Ketika membuat lyric lagu ini, aku terinspirasi oleh kisah salah satu temanku yang mempunyai satu ketakutan : Fear of failing. Secara tidak langsung, sebenarnya kata-kata dalam lagu ini adalah pesanku untuk temanku itu. Maka dari itu, ada beberapa kata-kata yang kurang cocok bila lagu ini dibuat untuk NASI BOENGKOES, terutama pada verse kedua. Dengan bantuan Manda, terciptalah verse kedua yang sekarang ini.
Adapun melodi lagu ini dibuat oleh Alben Octorys (Read. Alben), drummer berbakat dalam TLG Band yang punya talenta unik dalam menciptakan lagu. Melodi yang pertama dia untuk lagu ini simple, namun menarik. Dengan berbagai "twist" yang aku dan Manda tambahkan dalam lagu ini, terhasilkanlah "Mari Berkreasi" seperti yang anda dengar dalam NASI BOENGKOES.
Mari Berkreasi
lyrics by Willy Kurniawan (and Lorena Amanda Paramon), music by Alben Octorys
V1
Lihatlah sekelilingmu
banyak orang hidup tanpa arti
menikmati semu-nya dunia
dibalik hampanya hati
masa depan tiada mimpi
V2:
di mana generasi kita
yang dulu penuh harapan
Tak pernah gagal mencoba
Tak kenal halang rintangan
tak pernah putus harapan
Chorus:
mari berkreasi
perjalanan kita masih panjang
walau kegagalan kan pasti menghadang
pasti kita kan berdiri lagi
mari bersama
bebaskan, ekspresikan diri
raih semua mimpi
indah Dia beri
Mari berkreasi
Dengan kedua lagu yang tercipta di hari itu, beban tim musik sudah terangkat sebagian, dan aku pun kembali confident dengan progress NASI BOENGKOES.
Aku masih ingat perasaanku di akhir hari itu : luar biasa girang gembira! Gembira karena ini pertama kalinya kita selaku TLG Band berkolaborasi secara bersamaan untuk menciptakan lagu, girang karena lagu yang telah tercipta, menurutku, bagus sekali, dan luar biasa karena kita semakin excited dengan prospek NASI BOENGKOES.
Mengetahui bahwa script kami masih bisa di-improve, aku cepat-cepat menginisiasi agar kami aktif memikirkan improvement untuk script, apalagi mengingat bahwa waktu itu sudah bulan Juni, dan tentu saja mengetahui bahwa para aktor perlu latihan untuk tambahan tersebut. Ketika itu tambahan yang paling pertama dibuat adalah tentang relevansi "NASI BOENGKOES" dalam cerita kami.
Memang, ketika judul NASI BOENGKOES diambil, peran nasi bungkus itu sendiri dalam cerita kami sangatlah minor. Mengetahui ini, sangatlah aneh bukan bila judul NASI BOENGKOES diangkat? Maka dari itu, karena kita tidak akan mengganti judul kami, kami memutuskan untuk menambahkan isi cerita NASI BOENGKOES. Maestro dalam penambahan cerita ini adalah DaChan. Terinspirasi dari film Forest Gump, yang dibintangi Tom Hanks, dengan kata-kata "Life is like a box of chocolate", lahirlah kata-kata "Hidup ini seperti nasi bungkus" dalam NASI BOENGKOES.
Somehow, i felt that it fitted perfectly to the story!!! WOW!! Aku cukup tercengang-cengang dengan kreatifitas Dachan di sini, tidak menyangka juga bahwa peran dia dalam NASI BOENGKOES akan se-crucial ini. Memang rencana Tuhan adalah yang terbaik.
Namun, belum sampai di sini peran besar DaChan berakhir.
Masih ingat scene 5 (scene favoritku) yang aku ceritakan pada postingku yang sebelumnya? Yah, inilah scene yang benar-benar tercipta dari 0. Dan maestro sang pencipta scene 5 ini, tak lain tak bukan adalah DaChan. Memang ide awal tentang apa yang akan dikisahkan berasal dari Astrid (mulai bosan aku menyebutkan nama dia yang terlalu sering aku tulis, tapi ini menunjukkan seberapa besarnya kontribusi dia kepada NASI BOENGKOES), dan didiskusikan antara aku, Bombie, Dedi, DaSu, dan tentu saja, DaChan.
Aku masih ingat pertama-tama kita berpikir untuk membuat scene ini adalah scene yang cukup sweet antara kakak dan adik, Nando dan Nanda. Salah satu alasan kita ingin membuat scene 5 ini adalah karena dalam script awal hubungan kakak beradik antara Nando dan Nanda tidak ditunjukkan secara jelas.
Dengan ide scene yang "sweet" ini, DaChan pun mulai berpikir dan mengeluarkan draft pertamanya. Sesuai dengan perkiraan, memang scene itu telah menjadi scene yang sangat sweet. Namun, setelah dipikirkan dan direnungkan, nampaknya scene itu kurang menggigit dan hanya menjadi scene yang ekstra saja. Astrid pun mengidekan bahwa mungkin akan lebih baik jikalau di awal mula scene tersebut, conversation mereka heated up terlebih dahulu karena adu pendapat sampai akhirnya tercapailah klimaks di mana ada silence, lalu dilanjut ke lagu. Ide yang bagus, namun pada kenyataannya sangat sulit untuk terealisasikan.
Dengan ide baru ini, DaChan pun menulis ulang keseluruhan scene 5. Benar-benar tidak mudah, karena sangatlah sulit untuk mendapatkan kata-kata klimaks yang sanggup membuat seluruh percakapan terhenti dan hening. Dalam draft pertama dan kedua DaChan, dapat terlihat bahwa DaChan masih belum menemukan flow cerita yang menggigit dan klimaks. Sampai akhirnya aku, Astrid, dan Dachan bertemu untuk brainstorm bersama di tempat favorit kami, Starbucks Wheelock. Sebenarnya draft terakhir yang telah dibuat DaChan sudah cukup bagus, hanya tinggal tersisa one last push to make it a real climax.
Dalam diskusi kita, kita juga mengalami jalan buntu. Sampai Tuhan memberikan inspirasi awal pada salah satu dari kami, dan inspirasi itu tidak terputus dan disambung dengan lanjutan inspirasi tersebut dari seorang yang lain, dan terus menyambung sampai terciptalah kerangka cerita scene 5 yang solid (at least setidaknya sampai titik di mana lagu dimulai, karena masih ada sedikit tambahan percakapan lagi setelah lagu selesai).
Setelah kerangka cerita tercipta, DaChan pun dengan leluasa membuat draft cerita scene 5 yang hampir final. Aku tidak menyebut bahwa ini adalah draft yang final, karena masih ada lagu scene 5 yang masih harus dibuat, dan tak lupa, conversation lanjutan setelah lagu. Namun, ini adalah satu BIG step lagi yang kami buat, tentu saja, dengan God's obvious mark on it.
Karena kita sedang berbicara tentang scene 5, sekedar informasi saja, lagu scene 5 yang akan dibuat adalah lagu tersulit yang pernah kita buat dalam NASI BOENGKOES. Namun setelah lagu ini selesai, di-combined dengan conversation sebelum dan setelah lagu, scene ini merupakan scene kompleks yang memadukan berbagai macam emosi dalamnya : marah, khawatir, sedih, kecewa, haru, yang diakhiri dengan tawa dan senyuman. Aku akan menjabarkan lebih banyak lagi di postingku yang berikutnya."
to be continued
- browse entries:
- older »
Top Tags
[no tags]
Archives
Don't worry - your calendar is here… to see it in action just click "Save"
above and refresh the page.
About Me
-
child of the most high God.



Chatboard (16)