Weblog
Sunday, 08 November 2009
-
when the solution is not to keep on thinking about it.
but keep on walking, by faith, with God who strengthens me each and every day.
Monday, 26 October 2009
-
"NASI BOENGKOES" The Director's Cut (6)
"Mulai di bulan Juni kami semua menaikkan gigi kemudi kami dan mulai terasa hari demi hari begitu cepat berlalu. Latihan kami yang 2 kali dalam seminggu, dilengkapi dengan meeting-meeting lainnya membuat jadwal-ku cukup padat.
Puji Tuhan bahwa di bulan ini aku sudah tidak bekerja di tempatku bekerja yang sebelumnya, dan menunggu untuk memulai pekerjaan baruku di bulan Juli. Kalau tidak, mungkin aku sudah kelelahan dan terbaring di ranjang dalam waktu lama.
Selain dari aku yang cukup available untuk "bekerja" full-time untuk musical ini, Astrid dan Dedi juga sudah libur kuliah, menyababkan kami bertiga bisa fokus penuh untuk NASI BOENGKOES.
Adapun hal-hal kecil yang kami settle adalah jadwal gabungan seluruh tim kreatif (musik, aksi, tari, props, dan kostum), mencoba untuk finalize lagu-lagu, meng-touch up script agar lebih fluid dan dynamic, dan tidak lupa karakterisasi terpisah dengan para casts.
Jadwal merupakan hal yang menurutku sangat tricky sekaligus menyeramkan. Untuk tujuan ini aku sengaja meng-arrange meeting terpisah agar kita dapat plan dengan baik dan seksama. Orang-orang yang aku undang tak lain tak bukan adalah Ceka, Cipto (mewakili team kreatif), Bombie (mewakili dancer), DaChan selaku script writer, pak produser DaSu, dan tak lupa 2 asistenku : Astrid dan Dedi.
Impression pertama kali yang kami punya ketika kami memulai adalah : time is running out! Kita benar-benar perlu buck-up dan menaikkan kinerja kita. Setelah diskusi panjang lebar untuk decide hari-hari libur (hari libur benar-benar kita utilize penuh untuk latihan), meng-highlight hari-hari di mana kita tidak bisa pakai ruangan OHGS (karena ada doa pengerja dan alasan lain sebagainya), dan tak lupa menaruh tanggal-tanggal yang sudah di-book untuk wedding (maklum ada 3 tanggal pernikahan teman kami yang jatuh pada timeline perjalanan NASI BOENGKOES), kita telah membuat schedule, yang kali ini masuk akal dan reasonable, sampai pada hari H.
Buatku personally, aku paling ngeri melihat jadwal bulan September yang dipenuhi kata-kata GLADIKOTOR, GLADIRESIK, dan tentu saja : our big day, the Performance Day pada tgl 26 September. Hati dag-dig-dug, tapi tetap percaya Tuhan yang pegang kendali, membuatku agak nervous tapi tetap confident. Combined practice dengan tim musik dan tim nari akan dimulai di bulan Agustus. Well, at least that was the plan.
Setelah quick release lagu-lagu yang dibuat Ceka dan Cipto, somehow pergerakan tim musik sempat kembali tersendat. Pertama karena tidak ada koordinasi yang jelas dengan lyricist, dan kedua, reluctancy untuk keluar dari comfort zone untuk membuat lagu-lagu yang mereka tidak familiar, seperti lagu Jawa-nya Hendro, dan lagu dangdut. Namun akhirnya setelah beberapa "push" dari berbagai pihak, roda tim musik kembali bergerak dengan cepat.
Lagu yang paling pertama selesai adalah lagu sedih di scene 1 antara Nanda (di sini nama Manda telah diganti menjadi Nanda) dan Nando.
Aku masih ingat waktu itu ketika Manda memperdengarkan draft pertama lagu-nya. Indah sekali. Alunan kata-kata yang dibuat Manda didampingi dengan melodi yang dibuat Cipto membuatku hanyut dalam dunia kesedihan yang dialami Nanda dan Nando dalam NASI BOENGKOES. O iya, tak hanya kata-kata, tapi mendengar suara Manda yang waktu itu menyanyikan lagu tersebut, aku hanya bisa amazed dengan talent yang sudah Tuhan beri padanya. "Terima kasih Tuhan Engkau sudah mengirimkan Manda ke tempat ini", pikirku.
Beberapa dari kata-kata yang dibuat Manda ada yang perlu diubah agar lagunya menjadi lebih bermakna. Memang benar kata peribahasa "2 otak lebih baik dari 1" (aku ga yakin sih apa ini emang ada peribahasanya atau tidak), akhirnya aku bersama dengan Manda berhasil meng-finalize lagu tersebut di hari itu juga, dan kami sepakat untuk memberikan lagu itu judul "Mengapa". Berikut ini adalah lyric lagu "Mengapa".
Mengapa
lyrics by Lorena Amanda Paramon, music by Cipto Wibowo
Mengapa..
hidup tak berdaya
terbuang terhina
dipandang tak berguna
Mengapa..
ini salah siapa
kita hidup berada di bawah
dianggap sampah
Andai ayah ada semua kan berbeda
hidup akan jauh lebih bahagia
selalu bersama atasi segalanya
tapi semua hanya mimpi
Sekarang coba lihat nasib kita
hari esok masihlah tanda tanya
pendidikan apalah artinya
cita2 khayalan belaka
Ohh mengapa
kami harus menanggung segalanya
kepahitan tanpa persahabatan
melangkah tanpa arah tanpa cinta
Mengapa...
oohh Tuhan mengapa..
kami harus menderita
mengapa Tuhan mengapa
tolonglah kami Tuhan
jawablah kami
lepaskan kami
akan derita hidup ini.........
Dan pada hari yang sama, tercipta pula lagu tema kami, "Mari Berkreasi".
Ketika membuat lyric lagu ini, aku terinspirasi oleh kisah salah satu temanku yang mempunyai satu ketakutan : Fear of failing. Secara tidak langsung, sebenarnya kata-kata dalam lagu ini adalah pesanku untuk temanku itu. Maka dari itu, ada beberapa kata-kata yang kurang cocok bila lagu ini dibuat untuk NASI BOENGKOES, terutama pada verse kedua. Dengan bantuan Manda, terciptalah verse kedua yang sekarang ini.
Adapun melodi lagu ini dibuat oleh Alben Octorys (Read. Alben), drummer berbakat dalam TLG Band yang punya talenta unik dalam menciptakan lagu. Melodi yang pertama dia untuk lagu ini simple, namun menarik. Dengan berbagai "twist" yang aku dan Manda tambahkan dalam lagu ini, terhasilkanlah "Mari Berkreasi" seperti yang anda dengar dalam NASI BOENGKOES.
Mari Berkreasi
lyrics by Willy Kurniawan (and Lorena Amanda Paramon), music by Alben Octorys
V1
Lihatlah sekelilingmu
banyak orang hidup tanpa arti
menikmati semu-nya dunia
dibalik hampanya hati
masa depan tiada mimpi
V2:
di mana generasi kita
yang dulu penuh harapan
Tak pernah gagal mencoba
Tak kenal halang rintangan
tak pernah putus harapan
Chorus:
mari berkreasi
perjalanan kita masih panjang
walau kegagalan kan pasti menghadang
pasti kita kan berdiri lagi
mari bersama
bebaskan, ekspresikan diri
raih semua mimpi
indah Dia beri
Mari berkreasi
Dengan kedua lagu yang tercipta di hari itu, beban tim musik sudah terangkat sebagian, dan aku pun kembali confident dengan progress NASI BOENGKOES.
Aku masih ingat perasaanku di akhir hari itu : luar biasa girang gembira! Gembira karena ini pertama kalinya kita selaku TLG Band berkolaborasi secara bersamaan untuk menciptakan lagu, girang karena lagu yang telah tercipta, menurutku, bagus sekali, dan luar biasa karena kita semakin excited dengan prospek NASI BOENGKOES.
Mengetahui bahwa script kami masih bisa di-improve, aku cepat-cepat menginisiasi agar kami aktif memikirkan improvement untuk script, apalagi mengingat bahwa waktu itu sudah bulan Juni, dan tentu saja mengetahui bahwa para aktor perlu latihan untuk tambahan tersebut. Ketika itu tambahan yang paling pertama dibuat adalah tentang relevansi "NASI BOENGKOES" dalam cerita kami.
Memang, ketika judul NASI BOENGKOES diambil, peran nasi bungkus itu sendiri dalam cerita kami sangatlah minor. Mengetahui ini, sangatlah aneh bukan bila judul NASI BOENGKOES diangkat? Maka dari itu, karena kita tidak akan mengganti judul kami, kami memutuskan untuk menambahkan isi cerita NASI BOENGKOES. Maestro dalam penambahan cerita ini adalah DaChan. Terinspirasi dari film Forest Gump, yang dibintangi Tom Hanks, dengan kata-kata "Life is like a box of chocolate", lahirlah kata-kata "Hidup ini seperti nasi bungkus" dalam NASI BOENGKOES.
Somehow, i felt that it fitted perfectly to the story!!! WOW!! Aku cukup tercengang-cengang dengan kreatifitas Dachan di sini, tidak menyangka juga bahwa peran dia dalam NASI BOENGKOES akan se-crucial ini. Memang rencana Tuhan adalah yang terbaik.
Namun, belum sampai di sini peran besar DaChan berakhir.
Masih ingat scene 5 (scene favoritku) yang aku ceritakan pada postingku yang sebelumnya? Yah, inilah scene yang benar-benar tercipta dari 0. Dan maestro sang pencipta scene 5 ini, tak lain tak bukan adalah DaChan. Memang ide awal tentang apa yang akan dikisahkan berasal dari Astrid (mulai bosan aku menyebutkan nama dia yang terlalu sering aku tulis, tapi ini menunjukkan seberapa besarnya kontribusi dia kepada NASI BOENGKOES), dan didiskusikan antara aku, Bombie, Dedi, DaSu, dan tentu saja, DaChan.
Aku masih ingat pertama-tama kita berpikir untuk membuat scene ini adalah scene yang cukup sweet antara kakak dan adik, Nando dan Nanda. Salah satu alasan kita ingin membuat scene 5 ini adalah karena dalam script awal hubungan kakak beradik antara Nando dan Nanda tidak ditunjukkan secara jelas.
Dengan ide scene yang "sweet" ini, DaChan pun mulai berpikir dan mengeluarkan draft pertamanya. Sesuai dengan perkiraan, memang scene itu telah menjadi scene yang sangat sweet. Namun, setelah dipikirkan dan direnungkan, nampaknya scene itu kurang menggigit dan hanya menjadi scene yang ekstra saja. Astrid pun mengidekan bahwa mungkin akan lebih baik jikalau di awal mula scene tersebut, conversation mereka heated up terlebih dahulu karena adu pendapat sampai akhirnya tercapailah klimaks di mana ada silence, lalu dilanjut ke lagu. Ide yang bagus, namun pada kenyataannya sangat sulit untuk terealisasikan.
Dengan ide baru ini, DaChan pun menulis ulang keseluruhan scene 5. Benar-benar tidak mudah, karena sangatlah sulit untuk mendapatkan kata-kata klimaks yang sanggup membuat seluruh percakapan terhenti dan hening. Dalam draft pertama dan kedua DaChan, dapat terlihat bahwa DaChan masih belum menemukan flow cerita yang menggigit dan klimaks. Sampai akhirnya aku, Astrid, dan Dachan bertemu untuk brainstorm bersama di tempat favorit kami, Starbucks Wheelock. Sebenarnya draft terakhir yang telah dibuat DaChan sudah cukup bagus, hanya tinggal tersisa one last push to make it a real climax.
Dalam diskusi kita, kita juga mengalami jalan buntu. Sampai Tuhan memberikan inspirasi awal pada salah satu dari kami, dan inspirasi itu tidak terputus dan disambung dengan lanjutan inspirasi tersebut dari seorang yang lain, dan terus menyambung sampai terciptalah kerangka cerita scene 5 yang solid (at least setidaknya sampai titik di mana lagu dimulai, karena masih ada sedikit tambahan percakapan lagi setelah lagu selesai).
Setelah kerangka cerita tercipta, DaChan pun dengan leluasa membuat draft cerita scene 5 yang hampir final. Aku tidak menyebut bahwa ini adalah draft yang final, karena masih ada lagu scene 5 yang masih harus dibuat, dan tak lupa, conversation lanjutan setelah lagu. Namun, ini adalah satu BIG step lagi yang kami buat, tentu saja, dengan God's obvious mark on it.
Karena kita sedang berbicara tentang scene 5, sekedar informasi saja, lagu scene 5 yang akan dibuat adalah lagu tersulit yang pernah kita buat dalam NASI BOENGKOES. Namun setelah lagu ini selesai, di-combined dengan conversation sebelum dan setelah lagu, scene ini merupakan scene kompleks yang memadukan berbagai macam emosi dalamnya : marah, khawatir, sedih, kecewa, haru, yang diakhiri dengan tawa dan senyuman. Aku akan menjabarkan lebih banyak lagi di postingku yang berikutnya."
to be continued
Thursday, 22 October 2009
-
"NASI BOENGKOES" the Director's Cut (5)
And so, here comes the writing frenzy. Please enjoy.
"Setelah Bible Camp berakhir, tanpa membuang-buang waktu lebih banyak, aku menuangkan waktuku lebih banyak di tim musik. Apakah kalian ingat hal yang aku katakan di posting sebelumnya bahwa problem awal yang muncul di tim musik hanya untuk sementara? Ya, akhirnya saat itu aku merasa bahwa problem yang sebenarnya telah muncul.
Ternyata setelah dikorek-korek lagi, tim musik ternyata belum begitu memulai tugas-tugas mereka. Ceka single-handedly bekerja sendirian tanpa dibantu oleh siapapun. Sesuatu yang aku rasa sangat tidak efektif.
Tapi aku mengerti sebab hal ini terjadi mengingat bahwa saat itu Ceka sedang sibuk mencari pekerjaan baru, dan dia juga banyak membantu di Bible Camp walaupun dia bukan committee. Selain Ceka yang sibuk sekali dengan hal-hal selain Musikal, keterlibatan Cipto saat itu di NASI BOENGKOES juga masih pasif. Inilah masalah yang menurutku akan semakin kronis bila tidak diobati.
Maka dari itulah i called for an urgent meeting untuk tim musik, apalagi setelah sadar bahwa waktu telah berjalan 2 bulan sejak TLG Musikal project dimulai.
Dalam meeting itu, kita (selain aku, ada DaChan, DaSu, Bombie, Ceka, Cipto, Astrid, dan Dedi) berdiskusi lebih detail tentang konsep lagu-lagu yang kita perlukan di NASI BOENGKOES.
Lagu pertama yang kita discuss adalah lagu opening.
Banyak ide-ide menarik muncul, salah satunya adalah memakai lagu opening kartun "Crayon Sinchan" yang depannya berbunyi:"Seluruh kota merupakan tempat bermain yang asyik...". Ide yang menarik sekaligus mengerikan bukan? Pasti anda akan mengira bahwa ide ini muncul dari DaSu. Namun sayang sekali anda salah total! Ide ini muncul dari tak lain tak bukan : DaChan.
Selain ide menggunakan lagu "Crayon Sinchan", dia juga meng-ide-kan agar lagunya digabung dengan lagu opening "Doraemon".
Jadi kira-kira urutannya seperti ini : intro memakai intro lagu Doraemon, dan pas masuk verse, langsung masuk ke Crayon Sinchan punya lagu.
Bila anda menonton NASI BOENGKOES anda akan tahu bahwa ini bukanlah lagu opening kami. Maka dari itu anda sudah sadar bukan bahwa ide ini kami (yang ada di situ selain DaChan dan DaSu, of course DaSu was so excited about the idea) tolak setengah matang. Setengah matang karena sebenarnya aku agak ter-convinced kalau ini adalah ide yang menarik dan kreatif, sebelum akhirnya aku merasa bahwa aku tidak ingin NASI BEONGKOES menjadi parodi tidak jelas, dan kemudian menolak dengan berat hati ide DaChan.
Aku sempat terpikir lagu ciptaan Chrisye yang berjudul "Masa Sekolah", aku merasa melodi chorus lagu ini cocok dengan mood yang aku inginkan untuk opening NASI BOENGKOES. Selain mood chorusnya yang aku suka, aku merasa verse dari lagu itu kurang enak, dan lirik lagu ini secara keseluruhan tidak cocok dengan tema cerita NASI BOENGKOES. Maka dari itu akhirnya kita settled dengan melodi chorus "Masa Sekolah", dengan verse yang perlu kita gubah, dan lirik lagu yang perlu kita ubah secara total. Dengan teknik persuasif yang aku dapatkan dari bekerja di bidang sales, aku berhasil menconvinced DaChan untuk membuat lyric lagu opening kita. Tentu saja aku tidak tega untuk membiarkan dia bekerja sendirian, dan aku mem-propose agar dia berkolaborasi dengan Friska untuk membuat lyric lagu yang gokil dan asik.
Melodi verse-nya sendiri akan digubah oleh Cipto.
Di sini aku baru tahu kalau Cipto itu ketika itu agak malas untuk menciptakan lagu. Bukan karena dia tidak kreatif, namun karena dia tidak bisa, atau lebih tepatnya malas, membuat lyric.
Tuhan memang luar biasa, di sini aku masih belum tahu bahwa Cipto benar-benar sangat kreatif dalam menciptakan nada-nada lagu yang begitu indah.
Lagu kedua adalah lagu sedih Nando dan Manda di akhir scene 1. Aku ingin lagu ini benar-benar sedih dan menyayat hati. Cipto pun langsung menyanggupi untuk membuat melodi lagunya, sedangkan untuk lyric kita berpikir untuk menyerahkannya pada Manda.
Lagu ketiga yang menceritakan keoptimisan Hendro akan seperti lagu yang bernuansa Jawa dan ceria, dan lagu berjualan nasi bungkus di scene 3 akan bernuansa dangdut. Pada saat itu masih belum ada yang menyanggupi untuk take charge, dikarenakan genre ke-2 lagu tersebut yang cukup unik bagi TLG Band. Dan selain itu, karena masih belum terlalu urgent, i put this under my KIV list.
Lagu scene 5 antara Manda dan Nando pun sebenarnya kurang jelas, karena scene ini adalah scene yang ketika dibuat oleh Bung Peik, tidak ada conversation dan belum ada ceritanya. Ini pun akhirnya di put on hold sampai kita ada konsep cerita yang jelas, namun Astrid telah menyanggupi untuk membuat lyric lagunya.
Lagu di basketball court akan dibuat oleh Ceka sepenuhnya, baik lyric maupun musik. Aku membuat request pada Ceka untuk membuat lagu ini se-hiphop mungkin, aku juga ingin agar lagu ini dinyanyikan secara rap biar agak keren. Sebenarnya pada awalnya dia kurang yakin karena tipe lagu ini cukup asing bagi dia.
Dan lagu terakhir kami, lagu yang ceritanya akan dinyanyikan oleh karakter Manda di kompetisi vokal, akan dibuat bermodel lagu "AFI" atau mirip-mirip lagu "Indonesian Idol". Untuk lagu ini aku menyanggupi untuk membuat lyricnya.
Dengan ini ada total 7 lagu yang perlu kita ciptakan sendiri. Jumlah yang tidak sedikit. Tapi aku percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Dari 7 lagu ini, prioritas lebih tinggi diberikan pada lagu opening dan lagu di basket court dikarenakan lagu ini dibutuhkan Bombie agar dia bisa mulai mengkoreografi dance steps untuk ke-2 lagu ini. Specifically aku juga minta bahwa dance untuk opening perlu dibikin ceria, dan dance di basket court perlu dibikin ala hiphop. Aku masih ingat senyuman penuh makna Bombie hari itu. Dalam senyum itu terbersit kepasrahan, kebingungan, dan excitement pada saat yang bersamaan. Kepasrahan dengan keputusan aku yang sudah final, kebingungan dengan choreography yang sulit dan apabila terlalu sulit apakah dancer-dancer bisa menarikannya dengan bagus, excitement akan sesuatu hal yang baru yang mau tidak mau memaksa Bombie untuk keluar dari comfort zone dia.
Karena lagu opening kita akan memakai bagian dari lagu Chrisye, dan juga tidak lupa, lagu yang akan dipakai untuk dance Cinta Laura bersama gang-nya adalah lagu "Sweet Escape"nya Gwen Stefani di-medley dengan lagu "Feedback"nya Janet Jackson, kita perlu cari tahu tentang legal rights yang dibutuhkan untuk mempergunakan 2 lagu tersebut dalam NASI BOENGKOES. Untuk urusan ini, DaSu turun tangan sebagai produser untuk mencari tahu apakah ada royalty yang perlu kita bayar atau tidak. Kita tentu berharap bahwa kita tidak perlu membayar satu peser pun.
Kurang lebih 2 minggu dari meeting ini, Ceka telah come out dengan draft lagu basket. First impressionku setelah mendengar lagunya : GOOD TRY! Mengetahui bahwa ini bukan bidang musik yang biasa Ceka geluti, ini adalah progress yang luar biasa menurutku. Aku suka dengan konsep lagunya di mana ada MC, Robert, Nando yang saling bersahut-sahut-an. Namun tentu saja, masih banyak yang bisa di-improve dari lagu ini.
Pertama, lagunya kurang nge-beat, dan kurang enak untuk dipakai dance. Kedua, lyricnya cukup mengerikan, karena banyak kata "mati"-nya, juga lyricnya terlalu pendek. Ketiga, aku rasa mood lagu ini terlalu "dark", perlu dibikin keren dan aggresive instead of "dark".
Jadi action item dia adalah untuk lebih banyak mendengar lagu-lagu hiphop, mengubah nuansa lagunya agar lebih aggresive, juga membuat lirik lagu yang lebih "hidup".
Cipto pun tidak mau kalah serunya dan me-release lagu opening dan lagu sedih Manda dan Nando di scene 1 yang telah dia gubah.
First impression-ku : keren sekali ke-dua-dua-nya! Lagu opening aku merasa cukup biasa karena bagian chorusnya kita jiplak mati lagu Chrisye itu. Namun ketika mendengar lagu sedih Manda dan Nando di scene 1, aku langsung berpikir bahwa ini adalah sebuah masterpiece. Dan di sinilah aku makin mengerti kenapa Cipto ditempatkan di posisi yang penting di NASI BOENGKOES ini.
Dengan ini, krisis yang dialami oleh tim musik telah dapat kami lewati dengan selamat sentosa. Sungguh, aku rasa kita cuman bisa berhasil lewati ini semua karena anugerah Tuhan.
Aku mulai menyadari bahwa aku lebih percaya diri ketika mengambil berbagai keputusan penting di NASI BOENGKOES ini, contoh dalam meeting dengan tim props dan tim musik. Aku lebih punya conviction akan apa yang aku visi-kan dan aku inginkan untuk NASI BOENGKOES. Aku tau, ini datangnya dari Tuhan sendiri yang memimpin aku untuk lebih berani dalam mengambil keputusan.
Anda tahu sendiri kan bahwa aku kurang percaya diri di awal-awal karena 2 asistenku yang jauh lebih berpengalaman dari aku. Memang hal inilah yang membuatku tidak berani untuk mengambil keputusan-keputusan penting : aku takut salah.
Tapi hari demi hari berlalu, aku belajar untuk percaya penuh dengan Tuhan untuk memimpin tiap keputusan yang aku buat. Dan walaupun aku salah membuat keputusan, aku percaya, Tuhan yang akan terus jagai. Saying this, bukan berarti aku mengambil keputusan yang asal-asal-an, dan take God for granted. However, aku jadi punya confidence because i know He is in control.
Setelah urusan dengan tim musik selesai. Kita mulai membenahi script, terutama scene 5, scene yang tidak ada conversation itu. Aku akan menjelaskan lebih banyak di postingku berikutnya.
Scene ini akhirnya menjadi scene favorit-ku dan dengan sendirinya menjadi salah satu scene andalan NASI BOENGKOES.
Lagi-lagi, campur tangan Tuhan yang sangat nyata dalam perjalanan musikal kami."
to be continued
Wednesday, 21 October 2009
-
"NASI BOENGKOES" the Director's Cut (4)
Finally my busy days at school for this year is coming to an end. I finished marking the exam papers on Friday. Praise God i had a great long weekend!
I better stop talking about the papers, because i have a promise to keep.
without further ado, please enjoy the continuation of ""NASI BOENGKOES" - The Director's Cut".
"Roda perjalanan NASI BOENGKOES telah berputar makin jauh dari awal perputarannya. Para main committee telah menentukan bahwa meeting akbar pertama kami akan jatuh 18 April 2009. Ini merupakan satu langkah lagi yang kami ambil dalam perjalanan NASI BOENGKOES.
Dalam persiapan sebelum hari meeting tersebut, aku mulai semakin excited dengan TLG Musical ini. Jujur saja, aku yang memang tak ada pengalaman di teater ini merasa bahwa musikal ini hanya merupakan satu project yang datangnya dari Ko Omar. Apalagi ditambah dengan responsibility-ku yang aku anggap waktu itu adalah overestimation of my capability. Aku bahkan share kepada salah satu dari asisten-ku, Astrid, bahwa aku lebih menyukai diriku untuk acting atau bernyanyi atau bahkan nari, daripada menjadi director. Suatu pendapat yang di akhir perjalanan ini akan berubah 180 derajat.
Untuk mempersiapkan diriku agar tidak terlihat begitu cupu di hadapan para aktor pada hari meeting akbar kami, dari jauh-jauh hari aku sudah bertanya pada Astrid apa saja yang perlu dibahas untuk hari itu. Jadi, apabila aku terlihat agak keren dan berwibawa ketika meeting pertama, yah itu pun karena aku sudah mendapat saran dari "Zhuge Liang"-nya NASI BOENGKOES : Astrid Indriani!
Tak lupa, berbekalkan buku "So You Want to be a Theatre Director?" karya Stephen Unwin yang dipinjami oleh (lagi-lagi) Astrid, aku juga mulai membuat jadwal yang kurasa masuk akal untuk latihan-latihan NASI BOENGKOES kami. Bila dilihat kembali jadwal yang aku buat ini, jadwalnya sungguh tidak masuk akal. mm. Mungkin tidak masuk akal bukan kata-kata yang tepat, lebih tepatnya dibilang "terlalu optimis". Tapi aku rasa aku tidak membuat kesalahan, karena "kita harus optimis walaupun hujan gerimis"! Benar?
Pada tanggal 18 April yang dinanti-nantikan, aura optimis (bercampur aura tidur karena waktu meeting kita adalah jam 10 pagi) banyak mengalir dari para dancer dan aktor yang datang. Aku dapat merasakan bahwa mereka cukup excited dengan project ini dan tidak tahan untuk segera cepat-cepat mulai, sesuatu yang sempat agak kontradiktif di tengah-tengah perjalanan NASI BOENGKOES nanti.
Setelah beberapa patah kata dari DaSu sebagai producer dan aku sebagai director, meeting terpisah pun dimulai untuk beberapa department : musik, dance, acting.
Singkat kata, aku rasa meeting hari itu berjalan dengan lancar, dan aku dengan leganya menghela napas panjang tanda bahwa sehari lagi perjalanan NASI BOENGKOES kami telah berlalu.
Tak lama setelah meeting ini, Bible Camp sudah menunggu kami dalam waktu 2 minggu. Maka dari itu, di 2 minggu awal, latihan-latihan kami masih cukup santai.
Untuk para casts, 2 minggu ini dipakai untuk membaca script bersama-sama. Kata bersama-sama di sini sebenarnya cukup rancu karena pertama-tama, masih ada beberapa karakter yang belum ada pemeran, dan kedua, ada beberapa orang yang dengan alasan luar biasa-nya tidak datang latihan (sesuatu yang aku anggap angin lalu pada saat ini).
Waktu yang cukup santai ini aku pergunakan untuk mencari pemeran untuk Karakter-karakter yang belum mempunyai peran. Aku akhirnya meng-approach Andri Setiawan (read. Andri), Nathan Benjamin (read. Nathan), dan Anton Setiawan (Read. Anton), dan ternyata mereka bersedia untuk membantu. puji Tuhan! Bahkan Nathan juga tidak keberatan untuk join dance karena pada waktu itu dance team kekurangan dancer cowo.
Setelah dipikirkan dan direnungkan, juga setelah diskusi dengan Astrid, aku memutuskan untuk memberikan double role untuk Andri sebagai pemimpin upacara sekaligus MC, pemandu bakat adalah Nathan, sedangkan Anton sebagai Kepala Sekolah. Andri sebenarnya agak sungkan awalnya karena dia tidak berani untuk take up other commitment karena pekerjaannya yang cukup sibuk. Namun setelah convinced bahwa peran yang dia ambil tidak membutuhkan terlalu banyak latihan, akhirnya dia pun menyetujuinya. Jika Andri tidak bergabung dengan kami, mungkin NASI BOENGKOES akan terasa cukup hambar, dan kita tidak akan pernah melihat potensi Andri yang terpendam.
Adapun karater yang masih tersisa adalah tinggal teman Robert. Nama Jimmy Yoshua (Read. Jimmy) sempat terlintas dipikiranku, mengingat bahwa dia jago maen basket dan karakter teman robert ini memerlukan orang yang cukup mahir bermain basket. Namun, karena ketidakpastian dia akan berada di Singapore atau Indonesia untuk bulan-bulan mendatang, maka aku pun mengurungkan niatku, dan tetap aktif mencari orang yang cocok untuk memerankan teman Robert.
Pada latihan-latihan berikutnya, aku lebih memfokuskan diriku pada latihan casts, dan mempercayakan pekerjaan detail dance, music, props, dan costume pada para kepala department. Aku hanya memberikan timeline (berbekalkan schedule "terlalu optimis" yang aku buat) bahwa music dan dance perlu sudah jadi di bulan july, karena aku plan untuk memulai full rehearsal di bulan juli. Setelah semakin dipikirkan, memang terlalu optimis.
Tim Musik yang aku sangat pede-nya di awal perjalanan NASI BOENGKOES mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak bagus. Aku bingung dengan progress mereka karena tidak mendapat kabar apa-apa selama 2 minggu ini. Bahkan Bombie pun mulai ikutan panik karena dia pada dasarnya tak bisa membuat koreografi apabila tidak ada musik.
Untuk sementara, ini ternyata cuman false alarm. Ternyata mereka udah come out with their own schedule, hanya lupa untuk meng-inform aku dan Bombie. Namun seperti yang aku telah katakan : untuk sementara.
Meeting pertama aku dengan tim props pun aku plan di waktu santai ini. Sesuai dugaan, they are quite prepared ketika datang meeting, dan ide-ide yang datang dari mereka pun cukup gemilang. Salah duanya adalah :
1. penggunaan projector untuk backdrop (wah, aku ko bisa ga kepikiran ya?)
2. penggunaan rotating stage untuk dance (ini juga ga pernah kepikirkan waktu itu!)
Dua ide dahsyat ini benar2 memberi rasa yang unik bagi NASI BOENGKOES. Aku semakin excited ketika aku memvisualisasikan bagaimana dancer muncul di panggung dengan menggunakan rotation stage.
Oh iya, hampir saja aku lupa! Ide awal dancer itu mempergunakan rotating stage untuk naik dan turun. Bingung kan? Karena sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, mari kita assume kalo ide awal ini invalid, dan langsung masuk ke ide : dancer berputar di atas panggung. Cukup terbayang? Nah, itulah yang muncul di hari performance kami.
Selain tim props, tak lupa aku pun mencoba meng-arrange meeting dengan tim wardrobe yang dikepalai oleh Delly. Delly ketika itu sedang sangat sibuk dengan assessment akhir dia di NAFA, tapi masih sanggup untuk menyempatkan diri untuk terlibat di NASI BOENGKOES. Menurutku, ini adalah achievement dan luar biasa, dan aku sungguh tak punya kata-kata terima kasih yang cukup buat Delly dan team.
Sama seperti Ivan dan Oya, Delly is more than qualified untuk posisi ini. Dia adalah lulusan Fashion Design di NAFA. Dia lulus dengan perhargaan, dan bahkan beberapa collectionnya masuk dalam majalah. Luar biasa sekali bukan? Karena dia, aku jadi tidak usah pusing sama sekali tentang urusan wardrobe. Tuhan memang luar biasa!
Di meeting bersama Delly, Astrid telah menyiapkan list dari costume yang kita butuhkan dari casts, sedangkan Bombie dari sisi dancer. Mungkin yang membuat Delly agak membingungkan ketika itu adalah kostum dancers yang banyak dan beragam. Namun yang paling membingungkan bagi dia, adalah jumlah dancer, karena dancer jumlahnya belum final. Dan karena jumlahnya belum final, Delly kesulitan untuk meng-estimasikan budget dan juga resource yang dibutuhkan.
Di tengah kebingungan ini, kita setidaknya menemukan titik pencerahan bahwa kita memerlukan seragam sekolah dalam jumlah yang banyak. Diskusi selanjutnya dilanjutkan setelah Delly menyelesaikan assessmentnya dan setelah ia kembali dari Indonesia untuk short holiday.
Akhirnya Bible Camp pun tiba, dan banyak dari kami take this break untuk get Saturated before we continue the long NASI BOENGKOES journey ahead."
to be continued
Monday, 12 October 2009
-
author on 1 week break.
due to the immense amount of exam papers to be marked, the author of this blog decided to put ""NASI BOENGKOES" The Director's Cut" continuation on hold.
the author will resume writing after 19th Oct 2009.
the author would like to thank everyone who has been reading and following the story, also wishing them to look forward for the next episodes to come.
warm regards,
- browse entries:
- older »
Top Tags - Weblog
[no tags]
Weblog Archives
Don't worry - your calendar is here… to see it in action just click "Save"
above and refresh the page.
About Me
-
child of the most high God.



Chatboard (16)